MYUNGYEOL FANFICTION | I Love You And Him | One Shoot

Normal
0

false
false
false

IN
JA
X-NONE

 

Cast     :           Kim Myungsoo _Namja

Lee Seongyeol _Yeoja

Nam Woohyun _Namja

Lee Sungjong_Yeoja

Genre  :           Romance                

Author :          @AnnisaLKIM

Length :           One Shoot

Warning!!!Banyak typo dimana-mana.

 

Memiliki sebuah cafe sendiri merupakan impian seorang Lee Sungyeol sejak dulu. Dan akhirnya sekarang ia bisa mewujudkannya. “Romantic Cafe”, sebuah cafe mungil dengan dekorasi serba warna pink yang terletak di daerah Hongdae. Hongdae, daerah yang di penuhi toko-toko, restoran, butik, kedai, rumah makan, tempat karaoke, tempat spa, sauna di sepanjang jalanannya. Tak terkecuali studio foto milik seorang pemuda tampan yang juga seumuran dengan Sungyeol. Studio foto milik Kim Myungsoo, terletak persis disebelah kiri cafe milik Sungyeol.

Seperti biasa Myungsoo selalu membawa kameranya kemanapun ia pergi. Ia senang untuk memotret objek-objek yang menarik perhatiannya. Myungsoo keluar dari studionya bermaksud untuk mencari objek baru yang menarik untuk bisa ia potret.

“Huuuahh. Penat sekali rasanya di dalam sini. Sepertinya aku harus keluar sebentar.” Myungsoo beranjak dari studio foto miliknya. Myungsoo keluar dan  ia melihat ramai-ramai di sebelah studionya.

“Sepertinya mereka baru buka.” Gumam Myungsoo. Ia lantas melangkahkan kakinya kembali. Myungsoo mengarahkan lensa kameranya ke sembarang tempat. Tapi saat itu pula ia berhenti. Lensa kameranya menangkap sebuah objek yang begitu indah didepannya. Seorang gadis berambut panjang, dengan dress selutut dan syall yang mengikat lehernya. Gadis itu sedang membagi-bagikan selebaran dan juga balon kepada setiap orang yang melewati cafe itu. Ia tersenyum ramah pada semua orang. Myungsoo yang menyaksikan objek indah tersebut hanya bisa memandangnya tanpa berkedip. Seakan bumi berhenti berotasi pada saat itu juga, dan seakan hanya ada Myungsoo dan gadis itu di dunia ini.

“Cantik sekali..” kata Myungsoo tanpa sadar. Gadis itu melihat Myungsoo dari kejauhan. Ia lantas berjalan mendekat menghampiri Myungsoo. Myungsoo masih kekeh dengan posisinya tadi, sepertinya ia belum tersadar jika gadis itu sedang berjalan menghampirinya.

“Annyeong haseyo” sapa gadis itu dengan ramah. Ia membungkukkan tubuhnya  di depan Myungsoo. Sesaat setelah itu Myungsoo tersadar dari lamunanya.

“An..Annyeong haseyo” Myungsoo berkata dengan sedikit gugup. Ia lantas balik membungkukkan badannya pada gadis itu.

“Kau pemilik studio ini? Kami baru saja membuka cafe disebelah studiomu ini. Jika ada waktu mohon untuk berkunjung sebentar ke cafe kami.” Gadis itu tersenyum pada Myungsoo.

“Pasti…Aku pasti akan mampir.” Jawab Myungsoo sembari menggaruk tengkuknya.

“Kamsahamnida” Gadis itu lantas beranjak meninggalkan Myungsoo. Myungsoo yang tak rela ditinggalkan oleh gadis itu kemudian memanggilnya.

“Tunggu, boleh aku tau siapa namamu?” Gadis itu lantas membalikkan tubuh rampingnya.

“Sungyeol… Lee Sungyeol.”

“Aku Kim Myungsoo.” Sungyeol hanya tersenyum, ia melanjutkan langkahnya.

“Lee Sungyeol…Lee Sungyeol…” Gumam Myungsoo pelan sembari menginggat nama gadis itu.

Sehari kemudian Myungsoo merasa ia sudah merindukan sosok Lee Sungyeol. Ia lantas pergi ke cafe milik Sungyeol.

“Myungsoo-ssi..” Sapa Sungyeol dengan ramah saat melihat Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki cafe miliknya.

“Aaah.. Mereka bilang Americano di sini enak. Aku penasaran.” Bohong Myungsoo. Sebenarnya tidak ada yang mengatakan itu padanya. Ini hanya sebagai alasan agar ia bisa melihat Sungyeol.

“Aaah..Duduklah. Akan kubuatkan satu untukkmu. “ Sungyeol lalu tersenyum.

“Bagaimana bisa manusia punya senyum seindah itu?” Gumam Myungsoo dalam hati. Ia lantas memegang dadanya. Sepertinya sejak ia bertemu dengan Sungyeol kemarin jantung Myungsoo berdetak lebih cepat dari biasanya.

5 menit kemudian Sungyeol datang dengan segelas Americano ditangannya.

“Silahkan…” Sungyeol tersenyum lembut menyodorkan segelas americano pada Myungsoo, lalu ia beranjak.

“Sungyeol-ssi tunggu..” Myungsoo menahan lengan Sungyeol. Sungyeol memiringkan kepalanya, ia kini menatap Myungsoo.

“Bisa temani aku? Duduklah sebentar disini. Aku rasa kita perlu mengobrol dan saling mengenal satu sama lain, bukankah mulai saat ini kita akan bertemu setiap hari? “ Terlihat Sungyeol sedikit berpikir dengan tawaran Myungsoo, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk. Ia lalu mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Myungsoo. Mereka kini duduk berhadap-hadapan. Myungsoo bisa memandang wajah Sungyeol dengan lebih jelas. Sungyeol jadi lebih cantik ia di lihat dari dekat seperti ini. Tanpa sadar Myungsoo tersenyum.

“Jadi sudah berapa lama kau membuka studio fotomu itu Myungsoo-ssi?” Sungyeol membuka pembicaraan dengan sedikit canggung. Mereka pun saling mengobrol untuk waktu yang cukup lama. Terlihat mereka berdua sudah tidak canggung lagi. Terkadang mereka terlihat bercanda, tertawa bersama, dan tak jarang melakukan kontak fisik. Dan melalui obrolannya dengan Sungyeol tadi, Myungsoo jadi tau kalau ayah Sungyeol sudah tidak ada. Sungyeol tinggal di Seoul hanya dengan Ibunya. Ia punya seorang sahabat bernama Sungjong yang membantunya mengelola cafe. Sedikit banyak Myungsoo mulai mengenal sosok gadis pujaannya itu.

Drrrtt…Drrrt…Drrrt…

Ponsel Sungyeol berdering. Sungyeol segera merogoh sakunya.

“Myungsoo… Maafkan aku, tapi aku harus mengangkat ini..” Kata Sungyeol sembari menunjuk ponselnya dan menggigit bibirnya sendiri. Ia merasa tidak enak pada Myungsoo.

“It’s okay. Sepertinya aku juga harus kembali. Sampai jumpa besok Sungyeol-ssi.” Myungsoo tersenyum, dan Sungyeol membalas tersenyum padanya. Myungsoo beranjak dari tempat itu.

“Yeoboseyo Chagi….” sapa seseorang melalui telephone.

“Woohyun-ah, senang sekali mendengar suaramu lagi.” Jawab Sungyeol dengan nada gembira.

“Aku juga Sungyeol-ah… Aku sangat sangat sangat merindukanmu hari ini.” Jawab Woohyun yang sukses membuat Sungyeol senyum-senyum sendiri.

“Hehehe…Kau selalu seperti itu… Bagaimana kuliahmu?” jawab Sungyeol sambil tersipu.

“Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Jadi aku minta maaf karena aku jarang menghubungimu.” Woohyun mendesah pelan.

“Tidak apa-apa. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku bisa mengerti. Tenang saja.” Sungyeol meyakinkan Woohyun.

“Gomawo.. Hmm.. Bagaimana dengan cafemu?”

“Ehem… Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik Semakin banyak orang datang ke cafe.  Aku jadi semakin sibuk dan repot. Tapi aku sangat menikmati ini Woohyun-ah”. Sungyeol berkata dengan nada gembira.

“Seharusnya aku ada disana Sungyeol-ah. Aku ingin sekali ada disampingmu saat ini. Aku juga ingin ikut bahagia bersamamu. Aku ingin sekali mencicipi coffe buatanmu. Aku ingin bisa melihat senyummu lagi. Aku ingin bisa memelukmu. Aku rindu saat kita tertawa bersama. Aku rindu rindu rindu sekali. Maafkan aku Sungyeol-ah.” Kata Woohyun dengan sedikit kecewa.

“Eeeiii.. Kau ini bicara apa? Kau seharusnya fokus pada kuliahmu, jangan pikirkan apapun selain itu. Kau harus segera lulus dan………………………dan menikahiku Woohyun-ah.” Sungyeol berkata sambil malu-malu. Terdengar Woohyun terkekeh dengan perkataan Sungyeol barusan.

“Baik Nyonya Nam. Aku akan belajar dengan baik disini, agar aku bisa cepat kembali kesana. Aku mencintaimu Sungyeol-ah. Aku tutup ya telphonnya?”

“Tunggu dulu…”

“Apa masih ada yang ingin kau katakan Nyonya Nam?”

“Jangan telat makan, jangan lupa minum vitamin, jangan tidur terlalu malam, jangan lupa istirahat, jangan menemui wanita lain, jangaaan….” Belum selesai dengan perkataannya, Woohyun sudah memotong pembicaraan Sungyeol.

“Heeiii sudah-sudah. Aku tau Sungyeol-ah. Akan kulalukan seperti keinginannmu.” Woohyun terkekeh.

“Ada satu lagi. Aku juga mencintaimu Woohyun-ah. Aku tutup telphonnya. Annyeong.” Sungyeol langsung meutup telphon secara sepihak. Kata-kata Sungyeol tadi membuat sebuah senyuman terukir di bibir Woohyun. Well, itu cukup untuk membuat Woohyun semangat menjalani hari-harinya yang melelahkan di Kanada.

Nam Woohyun, ia sedang menyelesaikan kuliah S1-nya di Kanada. Ia mengambil jurusan kedokteran. Woohyun dan Sungyeol adalah teman sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Woohyun kermudian menyatakan perasaannya pada Sungyeol saat mereka lulus. Dan tanpa di sangka Sungyeol menerima pernyataan cinta Woohyun. Mereka kemudian berpacaran. 3 tahun kemudian mereka memutuskan untuk bertunangan. Woohyun mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani hubungan jarak jauh. Sebelum pergi Woohyun sempat berjanji pada Sungyeol bahwa ia akan menikahi Sungyeol segera setelah ia lulus kuliah. Sungyeol menerima keputusan Woohyun, ia berjanji pada Woohyun untuk menunggu laki-laki itu sampai dia kembali. Bagi Sungyeol, Woohyun adalah orang yang paling berharga di hidupnya saat ini. Setelah ibunya yang pasti. Setelah ayah Sungyeol meninggal, Woohyunlah yang menjaga Sungyeol. Ia melakukan dua peran sekaligus. Sebagai ayah sekaligus kekasih untuk Sungyeol. Sungyeol sangat bersyukur pada Tuhan, karena di saat ayahnya tidak ada, Tuhan mengirimkan sesosok malaikat seperti Woohyun untuk Sungyeol. Woohyun sangat mencintai Sungyeol, begitu pula sebaliknya.

Baru beberapa minggu yang lalu Myungsoo bertemu dengan Sungyeol, tapi Myungsoo merasa ia sudah benar-benar jatuh hati pada gadis itu. Bagaimana tidak, bisa dibilang hampir setiap hari ia bertemu dengan Sungyeol. Mengobrol bersama, bercanda, dan tertawa bersama. Setiap pulangpun mereka juga bersama, karena subway yang mereka tumpangi searah. Myungsoo semakin mengagumi sosok Sungyeol. Ia baik, ramah dan penuh perhatian. Ia cantik, manis dan juga sangat menggemaskan. Myungsoo tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tak pernah percaya pada cinta pandangan pertama. Tapi ia langsung merubah pemikirannya begitu ia bertemu dengan Sungyeol untuk pertama kalinya.

“Sungyeol……” Sapa Myungsoo saat melihat Sungyeol sedang merapikan bunga yang ada di depan cafenya. Sungyeol menoleh pada Myungsoo dan seperti biasa ia tesenyum.

“A-aa-ku…….Entah mengapa americano di sini enak sekali. Sehingga membuatku ingin datang setiap hari ke sini untuk meminumnya.” Kata Myungsoo pasrah. Ia tak tau alasan apalagi yang harus ia gunakan untuk bisa bertemu dengan Sungyeol setiap hari. Hanya ini yang terpikir olehnya.

“Masuklah…Aku akan membuatkannya untukmu.” Sungyeol menaruh peralatannya dan ia melangkahkan kakinya memasuki cafe. Tak lupa Myungsoo yang mengekor di belakang Sungyeol yang sedang asik ber-YES ria.

Beberapa menit kemudian Sungyeol datang dengan dua gelas americano. Satu untuknya dan satu untuk Myungsoo.

“Ini…” Sungyeol menyodorkan americano itu pada Myungsoo.

“Aku tau kalau kau ke sini pasti kau memintaku untuk menemanimu mengobrol, itu kenapa aku juga membawa satu gelas untukku sendiri. ” Kata Sungyeol sambil tekekeh. Ia lalu mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Myungsoo. Kemudian seperti biasa mereka akan mengobrol. Mulai dari hal-hal sepele sampai masalah politik yang sedang hangat-hangatnya. Mereka tertawa bersama dan terlihat akrab sekali. Entah mengapa Sungyeol menemukan kenyamana saat ia berada di dekat Myungsoo. Tapi Sungyeol tak tau apa itu, ia hanya berpikir mungkin itu karena ia dan Myungsoo hampir bertemu setiap hari. Saat Myungsoo mengobrol dengan Sungyeol, ia menemukan ada sesuatu yang berbeda pada Sungyeol. Myungsoo melihat ada sebuah cincin melingkar di jari Sungyeol. Seketika tubuh Myungsoo langsung membeku.

“Sungyeol…Apa yang kau pakai di jarimu itu?” kata Myungsoo menunjuk cincin yang ada di jari Sungyeol.

“Ooh..Ini? Ini cincin pertunanganku. Cantik sekali bukan? bagaimana menurutmu?” Sungyeol berkata sambil memandangi cincinya. Ia tak sadar wajah Myungsoo sudah pucat seperti mayat hidup.

“Kau sudah bertunangan? Sejak kapan?” tanya Myungsoo lagi.

“Sejak 3 tahun yang lalu.” Sungyeol tersenyum sumringah saat mengatakannya. Ia tak menyadari bahwa Myungsoo sudah hampir menangis saat ia mengatakan itu pada Myungsoo.

“Dia adalah laki-laki yang sangat akkkk…..” Belum sempat Sungyeol melanjutkan kata-katanya, Myungsoo beranjak dari tempat duduknya.
“Maafkan aku… Aku harus pergi…” Myungsoo berkata tanpa memandang Sungyeol. Ia lalu beranjak pergi dari cafe itu.

“Myungsoo…Kim Myungsoo” Sungyeol memanggil-manggil nama itu. Tapi sang pemilik nama tidak menghiraukannya.

“Sikapnya aneh sekali hari ini.” Sungyeol memutar bola matanya dan ia mengangkat kedua bahunya.

Di tempat lain Myungsoo sedang bingung. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak. Matanya memerah karena menahan air mata. Otaknya juga belum bisa berfungsi dengan baik. Ia sedang mencerna apa yang baru saja Sungyeol katakan padanya. Kedua lututnya lemas. Sampai akhirnya tubuhnya terjatuh di tanah.

“Apa? Apa dia bilang? Tunangan? Haaah…Dia pasti bercanda…” Kata Myungsoo untuk menenangkan dirinya sendiri. Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Ia berkata sambil menangis. Sakiiiiit sekali rasanya saat mengetahui bahwa Sungyeol sudah bertunangan. Lalu apa yang harus Myungsoo lakukan sekarang? Ia sudah terlanjur jatuh hati pada Sungyeol. Tidak akan mudah untuk melupakan seseorang yang ada di hatimu apalagi kalau kalian bertemu setiap hari.

Sejak kejadian kemarin, Myungsoo sedikit mengabaikan Sungyeol. Sudah beberapa hari ini ia tak menampakkan batang hidungnya di cafe milik Sungyeol. Myungsoo pikir ia harus sedikit menjaga jarak dengan Sungyeol. Tapi itu justru menyiksa batin Myungsoo. Tidak bisa melihat Sungyeol justru semakin menyakiti hati Myungsoo. Ia jadi sulit untuk bernafas. Ia juga selalu terbayang-bayang wajah Sungyeol. Ini sungguh membingungkan.

Hari ini saat Myungsoo berniat pulang dari studionya, hujan turun lebat sekali. Myungsoo menatap ke luar jendela. Ia menghela nafas berat. Untunglah ia membawa payung. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan studio. Baru beberapa langkah, ia sudah berhenti. Di sana ada Sungyeol. Ia sedang berdiri dan memeluk tubuhnya sendiri. Sesekali ia menengadahkan tangannya untuk mengecek apakah hujan sudah berhenti atau belum. Myungsoo terus memperhatikannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengacuhkan gadis secantik dan semanis Sungyeol, pikir Myungsoo. Myungsoo melangkahkan kakinya mendekati Sungyeol tanpa melepaskan tatapan matanya pada Sungyeol.

“Myungsoo….” Sungyeol menatap Myungsoo dengan tatapan penuh harapan.

“Aku lupa membawa payungku. Maukah kau berbagi payungmu denganku?” Sungyeol berkata sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya ke pipi. Myungsoo tidak menjawab. Ia menatap Sungyeol dengan tatapan dingin. Sungyeol bingung dengan sikap Myungsoo. Beberapa saat kemudian Myungsoo menggerakkan kepalanya, memberi tanda pada Sungyeol bahwa ia setuju dengan permintaan Sungyeol. Sungyeo tersenyum, dan ia langsung berlari ke arah Myungsoo. Myungsoo sedikit menggeser payungnya agar Sungyeol tidak kehujanan. Tapi Myungsoo masih diam. Tatapannya masih dingin.

Selama di jalan mereka hanya terdiam. Sampai Sungyeol tak tahan lagi dengan situasi ini. Kemudian ia mulai berbicara. Ia menceritakan cerita-cerita lucu dan tebakan-tebakan konyol pada Myungsoo. Tapi Myungsoo tak meresponnya. Sungyeol semakin tidak tahan lagi, kesabarannya sudah habis. Ia lalu berhenti. Kedua tangannya menarik bahu Myungsoo, menghadapkan tubuh Myungsoo tepat di depannya. Menatap tepat pada manik hitam mata Myungsoo dan menguncinya.

“Kau ini kenapa Myungsoo? Kau marah padaku? Apa aku berbuat salah padamu? Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sudah tidak tahan dengan sikapmu.” Sungyeol memberondong Myungsoo dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Myungsoo masih diam dengan tatapan dinginnya. Tapi sekian detik kemudian bibirnya bergetar. Ia menatap Sungyeol dengan tatapan yang sedikit berbeda. Tanpa aba-aba Myungsoo menarik tengkuk Sungyeol dan mempertemukan bibir mereka. Ia melumat bibir manis Sungyeol. Sungyeol membelalakkan matanya. Untuk sepersekian detik ia hanya terdiam. Otaknya masih mencerna apa yang Myungsoo lakukan terhadapnya. Tapi kemudian Sungyeol sadar. Ia mendorong tubuh Myungsoo dengan kuat hingga tautan bibir mereka terlepas. Payung yang Myungsoo pegang juga ikut terlepas. Kini air hujan dengan bebasnya membasahi tubuh mereka. Sungyeol menatap Myungsoo dengan tatapan meminta penjelasan.

“A-aak-ku mencintaimu Lee Sungyeol.” Myungsoo menggigit bibir bawahnya.

PLAAK

Tanpa di duga Sungyeol menampar pipi Myungsoo.

“Kau gila Kim Myungsoo” Sungyeol menatap Myungsoo dengan tatapan sengit. Ia lalu berlari meninggalkan Myungsoo yang masih terpaku di tempatnya. Sungyeol tidak perduli tubuhnya kini sudah basah kuyup karena terkena air hujan. Ia memberhentikan taksi yang lewat dan langsung pulang. Di dalam taksi Sungyeol memegangi bibirnya. Ia menggosok bibirnya dengan kasar untuk menghapus bekas bibir Myungsoo di bibirnya. Air mata Sungyeol terjatuh. Tapi ia sendiri bingung. Sepertinya hatinya mengingginkan ciuman itu, tapi otaknya tidak. Itulah sebabnya tadi Sungyeol tidak langsung menghindari ciuman Myungsoo. Butuh waktu bagi Sungyeol untuk mencernanya. Ada sedikit rasa penyesalan di hati Sungyeol kenapa ia sampai menampar Myungsoo tadi. Ia pikir ia sedikit keterlaluan tadi. Sungyeol memegang cincinnya.

“Maafkan aku Woohyun-ah…” Sungyeol menangis.

Hari ini seperti biasanya Sungyeol sibuk melayani pelanggan di cafenya. Sungyeol sibuk mengantarkan pesanan dari meja yang satu ke meja yang lainnya. Yah meskipun ia sendiri pemilik cafe ini, tapi ia belum punya cukup pegawai untuk membantunya. Jadi beginilah, ia sendiri yang harus turun tangan.

“Apa kau Lee Sungyeol?” Sebuah suara menginterusi Sungyeol saat ia sedang mengantarkan pesanan ke salah satu meja pelanggan.

“Iya…” Sungyeol menatap orang itu dan sedikit memiringkan kepalanya.

“Bisa kita bicara sebentar? Duduklah.” Sungyeol menuruti perkataan orang itu, dan ia duduk di kursi yang ada di depan orang itu.

“Mungkin kau bingung kenapa aku bisa tau namamu.” Kata orang itu sembari menyeruput segelas americano lalu meletakkannya kembali di meja.

“Aku Kim Sunggyu. Aku kakak Myungsoo.” Laki-laki itu memperkenalkan diri. Sungyeol hanya ber-OH ria.

“Aku ke sini untuk menanyakan sesuatu dan meminta sedikit bantuan darimu. Bolehkah?” Sunggyu menatap Sungyeol dengan tatapan penuh harapan.

“Apa itu?” tanya Sungyeol.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada Myungsoo kemarin? Aku tau itu berhubungan denganmu karena Myungsoo selalu mengumamkan namamu sejak kemarin.” Sunggyu mendesah.

“Kemarin saat ia pulang, Myungsoo terlihat sangat kacau. Ia basah kuyup. Wajahnya pucat. Tubuhnya lemah. Sampai akhirnya ia pingsan di depan pintu rumah kami.” Lanjut Sunggyu. Sungyeol menatap Sunggyu dengan tatapan khawatir, ia menggigit bibir bawahnya.

“Myungsoo…Dia bukanlah orang yang kuat seperti yang terlihat dari luar.” Sunggyu menundukkan kepalanya.

“Maksudmu?” Sungyeol bertanya dengan tatapan penuh ke kekhawatiran.

“Saat kami masih kecil, Myungsoo dan orang tua kami mengalami kecelakaan hebat. Orang tua kami meninggal di tempat. Untunglah Myungsoo masih bisa di selamatkan. Tapi salah satu ginjalnya terluka. “

“Lalu?”

“Selama ini Myungsoo hanya hidup dengan satu ginjal di tubuhnya. Itulah mengapa ia sangat lemah dan sering sakit-sakitan. Ia tidak boleh kelelahan, tidak boleh bekerja terlalu keras dan yang lainnya. Melihat kondisinya kemarin membuatku ketakutan setengah mati. Myungsoo…Dialah harta paling berharga dalam hidupku saat ini. Sejak kecil kami sudah melewati perjalanan hidup yang berat setelah orang tua kami tidak ada lagi. Dan aku sudah bertekat untuk selalu membuat Myungsoo bahagia.” Air mata Sunggyu terjatuh.

“Aku mohon Lee Sungyeol….Temui Myungsoo. Saat ini ia sangat membutuhkanmu disisinya. Aku mohon. Aku pikir hanya kau yang bisa membantunya. Aku tau aku lancang. Aku juga tidak tau apa hubungan kalian, tapi sejak kemarin Myungsoo selalu menggumamkan namamu. Ia sedang berada di rumah sakit sekarang. Ia tidak mau makan bahkan meminum obatnya sejak kemarin. Aku mohon Lee Sungyeol…..” Sunggyu menarik tangan Sungyeol dan mengenggamnya. Sungyeol bingung. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sungyeol. Kemudian Sungyeol mengangguk.

“Apa yang bisa aku lakukan untuk Myungsoo, Sunggyu-ssi?”

 

Saat ini Sunyeol sedang memandangi wajah Myungsoo yang sedang terlelap. Wajah Myungsoo sangat damai saat ia tertidur seperti ini, pikir Sungyeol. Sungyeol jadi semakin merasa bersalah pada Myungsoo. Karena Sungyeol, Myungsoo jadi seperti ini. Perlahan tangan Sungyeol bergerak ke wajah Myungsoo. Ia membelai lembut pipi Myungsoo. Dan tanpa sadar sebuah senyuman terukir di wajahnya saat ia melakukan itu.

“Apa aku begitu tampan Sungyeol-ssi?” Sebuah suara menghentikan pergerakan Sungyeol Dengan cepat ia menarik tangannya dari wajah Myungsoo. Myungsoo kemudian membuka matanya. Sungyeol sedikit gugup karena Myungsoo kini menatap wajahnya.

“Maafkan aku soal kemarin…” nada bicara Myungsoo sangat lemah. Ia merasa bersalah pada Sungyeol.

“Kemarin? Memangnya apa yang terjadi kemarin? Aku tidak ingat. Apa kau bermimpi saat tidur Myungsoo-ssi?” Sungyeol memutar-mutar bola matanya mencoba untuk mengingat-ingat. Tapi tentu saja ia masih ingat dengan jelas. Sungyeol hanya berpura-pura. Anggap ini untuk menebus rasa bersalahnya pada Myungsoo.

“Sunggyu Oppa bilang kau tidak mau makan dan meminum obatmu ya? Heiii tuan muda yang satu ini nakal sekali.” Sungyeol memainkan jarinya di hidung Myungsoo. Ia lalu tertawa. Kemudian ia beranjak dari kursinya. Tapi saat itu juga sebuah tangan menahan lengannya.

“Jangan pergi Sungyeol-ssi. Tetaplah di sini….Temani aku….” Sungyeol tersenyum mendengar perkataan Myungsoo.

“Aku tidak akan pergi kemana-mana tuan muda. Aku akan mengambilkan makanan dan obat untukmu.” Sungyeol terkekeh. Lalu ia melepaskan tangan Myungsoo dari lengannya dengan lembut. Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

Beberapa waktu kemudian Sungyeol sudah kembali dengan sebuah nampan berisi makanan dan obat. Ia lalu meletakkannya di meja samping ranjang Myungsoo. Ia membantu Myungsoo untuk duduk di ranjangnya. Sungyeol lalu duduk kembali di kursi sebelah ranjang Myungsoo. Ia mengambil semangkuk bubur hangat.

“Nah tuan muda, silahkan buka mulutmu…….” Myungsoo tersenyum dan ia menuruti perkataan Sungyeol. Sungyeol tersenyum lega karena akhirnya Myungsoo mau makan.

“Aiiish…Tuan muda yang satu ini. Kau makan seperti anak kecil. Lihatlah….Belepotan sekali.” Sungyeol terkekeh. Ibu jarinya bergerak mengelap sisa makan yang ada di sudut bibir Myungsoo. Myungsoo terkejut dan sedikit membelalakkan matanya. Myungsoo tentu sangat bahagia ada Sungyeol di sisinya saat ini. Bahkan Myungsoo merasa saat ini ia sudah sehat kembali. Aneh memang. Tapi itulah yang disebut dengan kekuatan cinta. Bisa kalian bayangkan sendiri seberapa besar rasa cinta Myungsoo pada Sungyeol. Dan seberapa besar pengaruh Sungyeol untuk Myungsoo. Myungsoo bahkan tak perlu obat atau apa. Cukup Sungyeol, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa lebih sehat dan lebih hidup. Bagaimana tidak, hanya melihat senyuman Sungyeol saja sudah membuat detakan jantung Myungsoo bekerja lebih cepat dari biasanya. Itulah cinta. Cinta bisa merubah apapun.

Sungyeol, sejak Myungsoo sakit ia jadi lebih perhatian padanya. Ia juga tak mengerti mengapa ia mau melakukan ini. Padahal ia baru mengenal Myungsoo beberapa bulan yang lalu. Setiap hari Sungyeol datang mengunjungi Myungsoo di rumah sakit. Dan kondisi Myungsoo semakin hari semakin membaik. Sungguh melegakan sekali bagi Sunggyu, ia sangat berterima kasih pada Sungyeol.

Hari ini Myungsoo akan keluar dari rumah sakit. Sunggyu dan Sungyeol sudah berada di ruangan tempat Myungsoo di rawat. Mereka sedang mengemasi barang-barang Myungsoo.

Mereka bertiga berjalan beriringan. Myungsoo di tengah. Sungyeol dan Sunggyu di sampingnya. Sungyeol lengan kanan Myungsoo, sedangkan Sunggyu mengapit lengan kiri Myungsoo.

“Hyung…Aku bisa berjalan sendiri. Kau tidak perlu membantuku seperti itu.” Myungsoo melepaskan tangan Sunggyu dari lengannya. Sunggyu berdecak.

“Kau membiarkan Sungyeol membantumu tapi kenapa aku tidak? Aku mengerti….Aku mengerti…..Aku tidak akan menganggu kalian. Anggap saja aku ini seperti tembok-tembok putih yang ada di rumah sakit ini, kau puas?” kata Sunggyu kesal. Myungsoo dan Sungyeol hanya bisa menertawakan tingkah kekanakan Sunggyu itu. Ketiganya lalu tertawa bersama.

Myungsoo sudah berbaring di ranjang kamarnya. Ia sedang bersiap untuk tidur. Tapi kemudian pintu kamarnya terbuka, memunculkan sosok sang kakak.

“Kau sudah mau tidur?” Sunggyu melangkahkan kakinya masuk dan ia berjalan mendekati ranjang Myungsoo dan duduk di tepi ranjang tersebut.

“Sungyeol….Apa kau begitu menyukai gadis itu?” goda Sunggyu dan ia menatap adiknya itu dengan tatapan jail.

“Aiish….Kau kesini hanya untuk menanyakan itu Hyung?” Myungsoo mendesah. Tapi kemudian ia mengangguk.

“Sangat hyung. Aku sangat mencintainya.” Myungsoo menatap Hyungnya itu. Tapi ia tak berani memberitahu Hyungnya itu bahwa sebenarnya Sungyeol sudah bertunangan. Tatapannya berubah menjadi sendu. Ia tahu kalau Hyungnya itu mengetahui status Sungyeol yang sebenarnya ia akan melarang Myungsoo untuk bertemu dengan Sungyeol lagi. Dan Myungsoo tak bisa melakukannya.

“Dia gadis yang baik. Ingat jangan pernah menyakitinya” Sunggyu tersenyum dan ia menepuk bahu Myungsoo. Sunggyu lalu beranjak pergi.

“Oh iya satu lagi….” Sunggyu berbalik, menatap Myungsoo lagi.

“Terimakasih karena sudah kembali sehat.” Sunggyu tersenyum pada Myungsoo. Myungsoo nampak tersentuh dengan kata-kata Hyungnya itu. Dan ia kemudian ia membalas senyum Sunggyu.

Hari ini adalah hari ulang tahun Sungyeol. Ini sudah masuk jam 00.00. Biasanya Woohyun akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya tepat pada jam itu. Tapi tahun ini sepertinya Woohyun melewatkannya. Sungyeol terus menanti telphon dari tunangannya itu. Berkali-kali ia menatap layar ponselnya sekedar untuk mengecek apakah ada pesan atau panggilan yang masuk. Sungyeol sempat gembira karena ponselnya bergetar menandakan ada sebuah panggilan. Tapi kembali ia harus menelan kekecewaan karena ternyata itu dari Sungjong, sahabatnya. Sungyeol hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saat Sungjong mengucapkan ulang tahun dan mengucapkan doa untuknya. Sungyeol tidak bersemangat. Terlebih ia sudah mengantuk dan bosan. Sungyeol langsung menutup telphon dari Sungjong secara sepihak. Sungjong berdecak kesal. Ia bingung dengan tingkah sahabatnya itu.

Pagi harinya Sungyeol melangkahkan kakinya dengan malas ke cafe. Lihatlah mata Sungyeol yang seperti mata panda. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Itu pasti karena ia tidak bisa tidur semalaman. Yap…Karena ia menunggu telphon dari Woohyun. Sunggyeol mendesah. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di cafe.

“Annyeong….” Sapa seseorang yang dengan jelas langsung mengagetkan Sungyeol. Sungyeol sedikit tersentak dari tempat duduknya. Laki-laki berbadan tegap, tinggi, berambut hitam kini sedang berdiri di hadapan Sungyeol. Tapi Sungyeol tidak bisa melihat wajah laki-laki itu karena ia menutupi wajahnya dengan sebucket bunga lili, bunga favorit Sungyeol. “Woohyun?” batin Sungyeol.

Taaadaaaa….

Laki-laki itu menyingkirkan bunga lili yang menutupi wajahnya. Ia lalu tersenyum sumringah pada Sungyeol.

“Myungsoo…” gumam Sungyeol. Ia nampak terkejut.

“Selamat ulang tahun, Lee Sungyeol” Myungsoo lalu memberikan bunga lili itu pada Sungyeol. Dan diterima oleh Sungyeol.

“Bagaimana kau tau?” Sungyeol tersenyum sembari memandang dan mencium wangi bunga tersebut.

“Aku ini punya banyak mata-mata di sekitarmu.” Myungsoo berbisik pada Sungyeol. Ia lalu mengedipkan salah satu matanya pada Sungyeol dan menatapnya dengan jail.

“Isssh…Kau….” Sungyeol lalu memukul lengan Myungsoo. Keduanya lalu tertawa.

“Terimakasih Kim Myungsoo.” Myungsoo mengangguk. Sungguh ini semua di luar dugaan Sungyeol. Seharusnya ia kecewa karena orang itu bukan Woohyun tunangannya. Tapi entah mengapa Sungyeol justru tidak merasakan itu. Ia malah sangat gembira saat tau itu adalah Myungsoo. Dan mulailah timbul perasaan-perasaan aneh yang Sungyeol rasakan terhadap Myungsoo. Semuanya membuat Sungyeol binggung dan semakin tak memahami perasaannya sendiri.

Untuk merayakan ulang tahun Sungyeol, Myungsoo mengajak Sungyeol untuk berjalan-jalan keluar. Hanya mereka berdua. Ia dan Sungyeol. Mereka sampai di tepian sebuah pantai yang luas namun sepi. Hanya ada beberapa orang di sana.

“Wah…Cantiknya….” Gumam Sungyeol saat ia keluar dari mobil. Sungyeol lalu berlari ke arah pantai. Myungsoo mengekor di belakang Sungyeol. Sungyeol mulai bermain-main air. Ia membiarkan kakinya terkena air saat ombak datang. Dan saat itupula ia akan berteriak dan memegang lengan Myungsoo karena ia takut akan terjatuh. Myungsoo terkekeh melihat tingkah konyol Sungyeol. Ia senang bisa lebih dekat dengan gadis yang ia cintai. Melihatnya tersenyum dan tertawa bahagia.

Setelah lelah bermain air Sungyeol pun mendudukkan dirinya di atas pasir menghadap ke arah pantai dan diikuti Myungsoo di sampingnya.

“Kau senang hari ini?” Myungsoo memiringkan sedikit kepalanya untuk mengahadap Sungyeol. Dan Sungyeol tersenyum lalu mengangguk. Mata Sungyeol sangat berbinar. Sepertinya ia memang benar-benar bahagia.

“Lalu dimana tunanganmu? Mengapa aku tidak pernah melihatnya? Bukankah seharusnya saat ini kau bersamanya untuk merayakan ulang tahunmu? Dia….Orang yang seperti apa?” Myungsoo menatap Sungyeol. Butuh waktu yang lama bagi Myungsoo untuk mengatur keberaniannya menanyakan hal ini pada Sungyeol. Sebenarnya Myungsoo juga tidak terlalu suka membicarakan tunangan Sungyeol. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya Myungsoo sangat penasaran.

Sungyeol hanya menundukkan kepalanya saat mendengar ucapan Myungsoo. Tatapan mata Sungyeol berubah menjadi sendu. Ia kembali teringat akan kekecewaannya terhadap Woohyun. Ia menghela nafas panjang.

“Nam Woohyun. Laki-laki itu bernama Nam Woohyun. Dia seumuran dengan kita. Dia tampan…baik….Aku mengenalnya pertama kali saat kami di bangku sekolah menengah atas. Saat itu aku baru saja kehilangan ayahku. Aku dan ibuku sangat terpukul. Kami sedih dan tidak tau harus berbuat apa. Sampai akhirnya Tuhan mengirimkan Woohyun untuk kami. Dialah yang membantu keluargaku untuk bisa bangkit kembali. Dia sudah seperti pengganti ayah untukku. Dia selalu melindungi aku dan ibuku. Sampai akhirnya kami bertunangan. 3tahun lalu Woohyun mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kanada. Ia tentu harus pergi, karena ini demi cita-citanya sebagai seorang dokter. Sebelum pergi Woohyun berjanji padaku kalau dia akan menikahiku saat ia kembali nanti. Dan aku juga berjanji bahwa aku akan menunggunya sampai ia kembali nanti. “ Jelas Sungyeol panjang lebar. Ia tak lagi menundukkan kepalanya, kini pandangannya tertuju ke arah pantai. Myungsoo yang mendengar penjelasan dari Sungyeol hanya bisa tertunduk lesu. Sungyeol tidak tau seharusnya ia merasa senang saat membicarakan Woohyun, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ia merasa ia telah menyakiti perasaan Myungsoo.

“Lalu cincin itu, mengapa aku baru melihatnya setelah beberapa bulan aku mengenalmu? Aku tidak pernah melihatmu memakai itu sebelumnya.” Myungsoo bertanya lagi.

“Itu karena kecerobohanku. Aku kehilangan cincin ini, dan aku harus membuat duplikasinya.” Sungyeol menjawab sembari memandangi cincinnya. Keduanya lalu terdiam. Myungsoo menundukkan kepalanya.

“Kau mencintainya?” Myungsoo memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Sungyeol. Sungyeol lalu balik menatap Myungsoo.

“Iya…Aku sangat mencintainya. Woohyun adalah orang paling penting dalam hidupku saat ini setelah ibuku.” Air mata Myungsoo akan keluar saat Sungyeol mengatakan itu. Tapi ia buru-buru menyekanya. Dan ia tersenyum pada Sungyeol, walau itu adalah sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan.

Malam harinya Myungsoo membawa Sungyeol ke taman bermain. Myungsoo pikir akan lebih menyenangkan menaiki bianglala pada waktu malam hari. Ia langsung mengajak Sungyeol kesana. Taman bermain yang mereka datangi sangat penuh dengan orang-orang. Mungkin karena ini akhir pekan.

“WOW..” kata yang terucap dari bibir Sungyeol begitu ia melangkahkan kakinya memasuki taman bermain tersebut.

“Lihat…Ada banyak sekali hal yang bisa kita lakukan disini.” Myungsoo menatap Sungyeol. Dan Sungyeol mengangguk dengan penuh antusias.

“Tunggulah di sini. Aku akan pergi membelikanmu minuman. Sebentar saja.” Myungsoo menyuruh Sungyeol untuk duduk di sebuah bangku panjang yang ada di pinggiran. Myungsoo lalu pergi meninggalkan Sungyeol. Awalnya Sungyeol sangat menikmati duduk-duduk sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang. Tapi saat itu pula Sungyeol merasa jantungnya berhenti berdetak. Disana… Sungyeol melihat ada segerombolan badut yang berjalan ke arah Sungyeol. Waktu kecil Sungyeol pernah punya pengalaman buruk soal badut dan manusia-manusia yang memakai topeng menyeramkan di wajah mereka. Sungyeol takut sekali. Keringat dingin mulai keluar di sekujur tubuhnya. Sungyeol mencengkram sudut kursi dengan kuat. Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar. Sungguh ini membuat Sungyeol ketakutan setengah mati. Dan tinggal beberapa meter lagi badut-badut itu akan sampai di tempat Sungyeol. Sungyeol yang sudah tidak tau harus berbuat apa memutuskan untuk berteriak dan berlari. Tapi saat berlari ia menutup matanya. Hingga akhirnya ia menabrak orang dan jatuh tesungkur. Sungyeol terduduk di tanah. Lututnya terluka dan mengeluarkan darah. Ia menangis dan menggigit bibirnya. Ia lalu menekuk lutunya dan menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya. Ia terisak. Orang-orang yang lewatpun memandang Sungyeol dengan tatapan aneh lalu mulai berbisik-bisik. Dan itu semakin membuat Sungyeol takut. Saat itu pula Sungyeol merasakan seseorang memeluknya tubuhnya. Sungyeol mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang tersebut.

“Myungsoo…” Sungyeol lalu menghamburkan dirinya dalam pelukan Myungsoo. Myungsoo mengusap punggung Sungyeol untuk menenangkannya.

“Maafkan aku, seharusnya aku tak meninggalkanmu.” Myungsoo dan Sungyeol lalu berdiri. Myungsoo memapah Sungyeol dengan pelan. Mereka lalu memutuskan untuk pulang ke cafe Sungyeol.

Cafe Sungyeol sudah sepi karena ini sudah larut. Sungjong juga sudah pulang saat Sungyeol kembali tadi. Kini hanya ada Myungsoo dan Sungyeol di sana.

“Aargh..” Sungyeol mengerang kesakitan saat hendak mendudukkan dirinya di kursi. Ini pasti karena luka di lutut Sungyeol. Myungsoo membimbing Sungyeol untuk duduk di kursi dengan pelan dan telaten.

“Biar kulihat lukamu.” Myungsoo lalu berlutut di depan Sungyeol agar ia bisa melihat lutut Sungyeol.

“Astaga Lee Sungyeol.” Myungsoo  menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lalu bangkit dan berjalan untuk mengambil kotak P3K. Beberapa saat kemudian Myungsoo kembali dengan kotak P3K di tangannya. Myungsoo lalu berlutut lagi di depan Sungyeol. Ia mulai mengobati lutut Sungyeol dengan sangat telaten. Terkadang Sungyeol mengerang kesakitan karena perih. Sungyeol memandangi wajah Myungsoo saat ia mengobati lukanya. Entah mengapa itu membuat Sungyeol tersenyum. Ia merasa nyaman saat ada Myungsoo di dekatnya. Ia merasa aman saat Myungsoo bersamanya. Dan lagi-lagi perasaan aneh ini menghinggapi diri Sungyeol. Myungsoo sudah selesai mengobati luka Sungyeol dan ia berniat untuk bangkit. Tapi sebuah tangan menahan lengannya. Sungyeol menahan tubuh Myungsoo dan ia justru memeluk leher Myungsoo dan menempatkan dagunya di pundak Myungsoo.

“Tetaplah seperti ini. Sebentaaaar saja. Aku mohon.” Kata Sungyeol mempererat pelukannya pada leher Myungsoo dan memejamkan matanya. Menyesapi aroma tubuh Myungsoo dengan leluasa. Myungsoo jelas tidak menolak permintaan Sungyeol. Ia balas memeluk tubuh Sungyeol.

“Sebenarnya apa ini? Apa aku tidak salah? Jantungku berdesir saat aku berada di dekatnya, dan aku merasa sangat aman dan nyaman. Perasaan yang hanya aku rasakan saat aku bersama dengan Woohyun, kenapa sekarang aku merasakannya dengan Myungsoo?” pertanyaan yang sedang menggelayuti pikiran Sungyeol saat ini. Ia semakin tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia akui ia sangat mencintai Woohyun tunangannya, tapi ia tak bisa menampik bahwa ia juga mulai merasakan perasaan yang berbeda pada Myungsoo. Entahlah……. -_-

Setelah agak lama saling berpelukan, Myungsoo berniat melepaskan pelukan Sungyeol. Bagaimana tidak, kakinya pasti sudah kram karena ia berlutut sedari tadi. Myungsoo menepuk pelan punggung Sungyeol dan memanggil nama Sungyeol dengan suara setengah berbisik. Tapi tak ada respon dari si empunya nama. Myungsoo lantas berinisiatif untuk melepaskan pelukan Sungyeol. Ia melakukannya dengan pelan. Dan begitu pelukan itu terlepas, Myungsoo tertawa kecil karena ternyata Sungyeol sudah tertidur. Myungsoo lalu menggendong tubuh Sungyeol untuk memindahkannya ke tempat yang lebih nyaman. Myungsoo menemukan ada kursi yang lebih panjang dan lebih lebar dari kursi tadi. Myungsoo meletakkan tubuh Sungyeol di sana, dengan pelan dan hati-hati. Myungsoo lalu duduk di sampingnya. Ia menyandarkan kepala Sungyeol di bahunya. Lalu Myungsoo juga memejamkan matanya.

“Yaa Lee Sungyeol…Katakan padaku kau punya hubungan apa dengan Myungsoo?” tanya Sungjong dengan tatapan tajamnya pada Sungyeol. Sungjong mencurigai sahabatnya itu. Bagaimana tidak, tadi pagi saat ia membuka cafe ia memergoki Sungyeol dan Myungsoo sedang tidur dengan posisi yang bisa di bilang tidak biasa untuk ukuran teman. Sungyeol menyadarkan kepalanya di bahu Myungsoo dan keduanya saling berpegangan tangan. Yaa meski mereka sangat serasi, tapi ini salah. Karena status Sungyeol yang sudah bertunangan.

“Jangan bilang padaku kau mulai menyukai laki-laki itu…” Sungjong semakin mempertajam tatapannya. Sungyeol hanya diam dan menundukkan kepalanya.

“Lee Sungyeol..” Nada bicara Sungjong mulai meninggi. Ia sedikit membentak Sungyeol.

“Aaakkuu… Tidak tau Sungjong-ah. Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku saat ini. Aku hanya merasa aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku selalu ingin melihatnya, dan aku selalu merindukannya. Aku…………” Sungyeol menggantung kalimat terakhirnya.

“Mencintainya. Iya tidak salah lagi. Kau jatuh cinta padanya…” Sungjong melanjutkan perkataan Sungyeol. Kata-kata Sungjong membuat Sungyeol terbelalak.

“Kau sudah bertunangan Lee Sungyeol. Apa kau tidak memikirkan perasaan Woohyun jika ia mengetahui semua ini. Pertama kau menghilangkan cincin pertunangan kalian, dan sekarang kau jatuh cinta pada pria lain. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu itu Lee Sungyeol?” Nada bicara Sungjong mulai meninggi lagi.

“Aku tau Sungjong-ah. Aku tau aku bersalah pada Woohyun.” Air mata Sungyeol mulai menggenang di pelupuk mtatanya.

“Kau masih mencintai Woohyun?” Sungjong bertanya, nada bicaranya mulai merendah.

“Tentu saja.” Jawab Sungyeol dengan tegas. Dan ia buru-buru menyeka air matanya sebelum air mata itu jatuh.

“Lalu kau juga mencintai Myungsoo?” Sungjong bertanya lagi. Pertanyaan Sungyeol kali ini tidak bisa Sungyeol jawab dengan cepat. Ia memandang ke luar jendela dan memikirkan pertanyaan Sungjong.

“Kau tidak bisa seperti ini Lee Sungyeol.” Sungjong dengan cepat menarik kedua bahu Sungyeol agar bisa menghadap kearahnya.

“Maafkan aku Sungjong-ah, aku memang bodoh.” Sungyeol menundukkan kepalanya. Ia kembali terisak.

“Myungsoo tau kau sudah bertunangan?”

“Iya…..” Sungyeol mengangguk.

“Lalu?”

“Myungsoo bilang dia mencintaiku…”

“Kalian berdua gila.” Sungjong melepaskan tangannya dari bahu Sungyeol. Ia memegangi keningnya sendiri.

“Cepat akhiri semuanya. Kau tidak bisa seperti ini Sungyeol-ah. Kau mencintai Woohyun dan Myungsoo. Ini tidak adil untuk mereka berdua.” Lanjut Sungjong.

“Apa yang harus aku lakukan?” Sungyeol mengangkat kepalanya dan menatap Sungjong.

“Pilih salah satu, atau kau akan kehilangan keduanya.” Sungjong balas menatap mata Sungyeol mencoba untuk meyakinkan sahabatnya itu.

Sudah seminggu ini Sungyeol berusaha menghindari Myungsoo. Ia memilih untuk pulang naik taksi. Dan jika Myungsoo datang ke cafenya ia selalu menyibukkan dirinya dan membuat alasan untuk menolak Myungsoo saat laki-laki itu memintanya untuk menemani jalan-jalan atau sekedar untuk mengobrol. Tapi entah mengapa ini justru menyakiti perasaan Sungyeol. Tidak bisa melihat Myungsoo seperti kehilangan separuh dari dirinya. Myungsoo juga bingung dengan sikap Sungyeol yang tiba-tiba berubah.

 “Apa aku membuat kesalahan? Apa ia marah padaku? Tapi kenapa?” tanya Myungsoo dalam hatinya.

Hal ini membuat Myungsoo tidak tahan. Ia harus bertemu dengan Sungyeol dan meminta penjelasan.

Sungyeol sedang berjalan sendirian , saat ini sudah larut malam dan jalanan sudah sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berlalu lalang.

GREPPP

Sungyeol merasakan ada sebuah tangan kekar menariknya dengan keras. Sungyeol terkejut. Orang itu menarik Sungyeol untuk mengikuti dirinya, dan ia berjalan sangat cepat. Tentu saja Sungyeol juga harus mengikuti langkah kaki orang itu. Tapi Sungyeol tidak bisa melihat wajah orang itu karena jalanan yang sudah gelap dan laki-laki itu terus menghadap lurus ke depan.

“Lepaskan…Aku mohon…” Sungyeol berusaha melepaskan tangan orang itu dari tangannya. Tapi sia-sia, orang itu lebih kuat dari Sungyeol. Sungyeol terus meronta, sampai akhirnya ia sadar bahwa orang itu adalah Myungsoo. Sungyeol lalu berhenti meronta, dan ia mengikuti langkah Myungsoo dengan tenang.

Mereka sampai di sebuah taman yang sepi. Myungsoo melepasakan tangan Sungyeol dengan perlahan. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap Sungyeol.

“Maaf…Maafkan aku sudah menyakitimu.” Kata Myungsoo. Sungyeol tidak merespon. Ia sibuk mengusap-usap tangannya yang memerah.

“Sungyeol…” Kata Myungsoo pelan. Sungyeol menghentikan aktivitasnya, dan kini ia menatap Myungsoo.

“Apa seperti ini caramu memperlakukan wanita hah? Kau mau mati? Aiissh…” Sungyeol menatap Myungsoo dengan kesal. Lalu Myungsoo menarik Sungyeol dalam pelukannya. Membenamkan wajah Sungyeol di dada bidangnya. Mengelus lembut surai rambut Sungyeol.

“Maafkan aku… Aku hanya merindukanmu. Aku pikir akhir-akhir ini kau selalu menghindariku. Dan cara inilah yang terpikir olehku. Maafkan aku.” Myungsoo mengecup pucuk kepala Sungyeol.

“Siapa bilang aku menghindarimu? Bukankah aku sudah mengatakan alasannya kenapa aku selalu menolak ajakanmu? Kau tau kan cafe kami semakin ramai dan aku semakin sibuk sibuk akhir-akhir ini.” Sungyeol melepaskan dirinya dari pelukan Myungsoo. Ia berkata, tapi tak berani menatap Myungsoo.

“Bohong..” Jawab Myungsoo. Itu membuat Sungyeol kaget.

“Pasti ada sesuatu yang lain. Apa aku berbuat salah? Kau marah padaku atau apa? Katakan padaku Lee Sungyeol agar aku bisa memperbaikinya.”

“Aku tidak marah. Kau tidak melakukan kesalahan apapun.” Kata Sungyeol datar.

“Lalu?”

“Aakkuu…” Sungyeol mulai binggung. Ia menggigit bibir bawahnya.

“Kau kenapa?” Myungsoo memegang kedua bahu Sungyeol dan menatapnya dengan intens.

“Aku rasa aku punya perasaan lain terhadapmu.” Kata sungyeol pelan. Dan air mata mulai jatuh membasahi pipinya.

“Maksudmu?”

“Aku rasa aku jatuh cinta padamu..” Sungyeol menatap manik mata Myungsoo saat mengatakannya. Tapi bibirnya bergetar saat ia mengatakan itu.

“Benarkah? Lalu apa kita bisa bersama mulai sekarang?” Myungsoo menyiungkan sedikit senyuman di bibirnya. Raut wajahnya berubah bahagia. Tapi Sungyeol malah menangis dan ia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?” Raut wajah Myungsoo berubah drastis.

“Kau tau kan aku sudah bertunangan? Sejak awal ini semua salahku. Seharusnya aku memberitahumu sejak awal kalau aku sudah bertunangan. Dan sebagai wanita yang sudah bertunangan seharusnya aku menjaga jarak denganmu. Perasaanku terhadapmu, seharusnya aku tidak memilikinya. Ini salah..Semua ini salah…”

“Aku mohon jangan bicara seperti itu Lee Sungyeol. Kita hanya perlu bicara dan menjelaskan semuanya pada Woohyun. Kau bilang Woohyun orang yang baik. Pasti dia bisa mengerti.” Myungsoo menatap nanar kedua mata Sungyeol. Ia berusaha meyakinkan Sungyeol.

 “Aku mencintaimu dan kau bilang kau juga mencintaiku, tidak bisakah kita memperjuangkan ini?” lanjut Myungsoo. Sungyeol menggelengkan kepalanya lagi.

“Aku tidak mungkin menghianati Woohyun. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Aku tidak bisa menyakiti hatinya.”

“Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak perduli dengan perasaanku?” Air mata Myungsoo jatuh saat mengatakannya.

“Bukan begitu Myungsoo-ah. Bukan itu maksudku. Aku hanya…” Sungyeol menggantungkan kalimat terakhirnya. Raut wajah Myungsoo terlihat sangat kecewa. Kemudian Myungsoo melepaskan tangannya dari bahu Sungyeol. Memundurkan langkahnya, dan berjalan meninggalan Sungyeol dengan tatapan penuh luka..

“Maafkan aku Kim Myungsoo..” kata Sungyeol lirih saat Myungsoo meninggalannya. Sungyeol tau ia egois. Ia tau hati Myungsoo pasti terluka. Tapi inilah keputusan yang Sungyeol ambil, ia memilih satu atau ia akan kehilangan keduanya. Dan ia memilih untuk tetap bersama dengan Woohyun. Walaupun ini sangat menyakitkan, tapi Sungyeol rasa ini yang terbaik. Terbaik untuknya dan untuk Myungsoo.

Sungyeol sedang bersiap-siap menutup cafenya. Hari ini dia memilih untuk tutup lebih awal karena ia pikir sudah tidak akan ada lagi pelanggan yang datang jadi dia bisa pulang dan istirahat. Saat sedang mengunci pintu Cafenya saat terdengar suara seseorang menginterupsinya.

“Kau mau pulang?” Tanya orang itu.

“Iya…….Myungsoo.” Jawab Sungyeol membalikkan tubuhnya ke arah Myungsoo.

“Kalau begitu ayo. Aku juga mau pulang.” Sungyeol sedikit berfikir dengan tawaran Myungsoo, namun akhirnya ia mengangguk pelan.

Mereka berdua lalu berjalan beriringan. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Myungsoo dan Sungyeol hanya menundukkan kepala mereka sembari sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Sungyeol memutuskan untuk membuka mulutnya.

“Besok dia akan kembali….” Kata Sungyeol lirih. Tapi Myungsoo bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja Sungyeol katakan. Deg….Sontak Myungsoo langsung menghentikan langkahnya. Tapi ia masih diam. Ia butuh waktu untuk mencerna perkataan Sungyeol barusan.

“Aku tidak tau harus mengatakannya atau tidak. Tapi aku pikir kau perlu mengetahuinya.” Sungyeol juga menghentikan langkahnya. Tapi ia tak berani menatap Myungsoo.

“Berarti mulai besok kita tidak bisa seperti ini lagi?” Myungsoo membalikkan tubuhnya dan ia mengahadapkan tubuh Sungyeol ke arahnya. Air mata Myungsoo hampir jatuh saat ia mengatakan itu.

“Malam ini saja Lee Sungyeol…Aku mohon untuk malam ini saja….Jadilah kekasihku….Kita pergi bersama dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan pasangan-pasangan lain. Aku janji, saat ia kembali nanti aku tidak akan menganggumu lagi.” Myungsoo menatap lekat-lekat mata Sungyeol. Ia sangat berharap Sungyeol mau mengabulkan keinginannya, walau ia tau permintaannya tadi tidak masuk akal. Sungyeol hanya menundukkan kepala, tanpa ia sadari air matanya pun jatuh. Bagi Sungyeol permintaan Myungsoo barusan bukan hal yang mudah untuk ia kabulkan. Ia ingin sekali menghabiskan waktu bersama Myungsoo karena Sungyeol juga mencintai Myungsoo. Tapi di sisi lain Sungyeol tau kalau ia melakukan ini berarti ia telah menghianati tunangannya sendiri.

“Hanya malam ini kan?” Sungyeol mengangkat kepalanya dan ia balas menatap Myungsoo. Kemudian Sungyeol menganggukkan kepalanya. Myungsoo tersenyum. Ia lantas mengarahkan tangannya ke pipi Sungyeol dan mengahapus air mata Sungyeol dengan kedua ibu jarinya. Sungyeol juga tersenyum pada Myungsoo. Dengan sigap Myungsoo meraih tangan Sungyeol dan menggenggamnya dengan erat. Merekapun meneruskan langkah mereka. Mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran. Ketika makanan pesanan mereka sudah datang dan Sungyeol ingin melepaskan pegangan tangan Myungsoo, Myungsoo justru mengeratkan pegangan tangannya. Ia menggenggam tangan Sungyeol di sela-sela jarinya.

“Myungsoo..Aku ingin makan..Bagaimana bisa kita makan dengan posisi tangan yang seperti ini? Sungyeol mengernyitkan dahinya.

“Biarkan seperti ini. Kita masih punya tangan yang satunya lagi kan? Tangan kananku akan menjadi tangan kananmu, dan tangan kirimu akan menjadi tangan kiriku.” Kata Myungsoo sembari mengangkat tangan kanannya dan menunjuk tangan kiri Sungyeol. Sungyeol hanya terkekeh dengan tingkah Mmyungsoo barusan. Tapi Sungyeol bisa memakluminya. Dan akhirnnya ia hanya menurut pada permintaa Myungsoo. Merekapun melanjutkan makan. Agak repot memang, tapi mereka menikmatinya. Sesekali mereka tertawa bersama saat Myungsoo menyuapi Sungyeol dan berulang kali makanan itu jatuh karena posisi duduk Sungyeol yang terlalu jauh. Keduanya terkekeh. Mereka nampak sangat bahagia. Sebenarnya jika di lihat-lihat mereka adalah pasangan yang serasi. Myungsoo tampan, dan Sungyeol cantik. Mereka juga sama-sama saling mencintai walau mereke baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Tapi sayang takdir tak berpihak pada mereka. Tuhan tidak  mentakdirkan Myungsoo untuk Sungyeol dan tidak pula mentakdirkan Sungyeol untuk Myungsoo. Miris memang. Keduanya saling mencintai, tapi tidak bisa bersama.

Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pergi ke taman dan bermain-main sebentar di sana. Mereka duduk di sebuah ayunan yang sebenarnya adalah ayunan untuk anak-anak. Posisi mereka masih sama. Myungsoo masih belum mau melepaskan pegangan tangannya pada Sungyeol. Walau tangan mereka kini sudah berkeringat karena mereka sudah berpegangan erat sejak tadi. Sungyeol dan Myungsoo sama-sama mengangkat kepala mereka menghadap langit. Keduanya terdiam sambil memandangi bintang-bintang di atas sana. Sesekali Myungsoo melirik ke arah Sungyeol. Akan sangat menyenangkan sekali bagi Myungsoo bila ia terus bisa seperti ini bersama Sungyeol. Myungsoo melepaskan pegangan tangannya. Sungyeol terkejut, ia langsung menoleh ke arah Myungsoo dan menghentikan aktivitasnya memandangi bintang. Myungsoo menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia berdiri. Myungsoo melangkahkan kakinya ke hadapan Sungyeol. Mata Sungyeol terus mengikuti setiap gerakan yang Myungsoo lakukan. Myungsoo kemudian berlutut di depan Sungyeol yang masih terduduk di atas ayunan. Ia meraih ke dua tangan Sungyeol dan mengenggamnya. Myungsoo menatap Sungyeol dan matanya berkaca-kaca.

“Seandainya Kim Myungsoo yang bertemu dengan Lee Sungyeol terlebih dulu. Seandainya hanya Kim Myungsoo orang yang ada di hati Lee Sungyeol saat ini. Seandainya Lee Sungyeol belum bertunangan. Seandainya…” Myungsoo menggantung kalimatnya. Ia tidak sanggup meneruskannya. Air matanya sudah terlebih dahulu jatuh. Tubuh Myungsoo bergetar hebat. Untuk pertama kalinya Myungsoo menangis sampai seperti ini. Myungsoo lantas menundukkan kepalanya. Ia malu kalau Sungyeol harus melihatnya menangis seperti ini.

“Maafkan aku Myungsoo….” kata Sungyeol lirih. Bibir Sungyeol bergetar saat mengatakannya. Sungyeol pun menangis.

“Berjanjilah padaku Lee Sungyeol kalau kau akan hidup bahagia bersamanya. Maka dengan begitu aku bisa melepaskanmu pergi.” Myungsoo mengangkat kepalanya. Ia kembali menatap kedua mata Sungyeol. Sungyeol tidak menjawab, ia justru menangis.

Myungsoo menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata Sungyeol. Kemudian tangannya turun pada leher Sungyeol. Menarik leher Sungyeol, mengarahkan wajah Sungyeol ke wajahnya. Myungsoo juga sedikit mendongakkan kepalanya sampai akhirnya bibir mereka bertemu. Myungsoo mencium Sungyeol. Sungyeol membalas ciuman Myungsoo. Bukan ciuman yang panas yang penuh nafsu dan bukan pula ciuman yang menggairahkan. Tidak ada lumatan-lumatan. Mereka menutup mata mereka saat berciuman. Ciuman mereka basah. Keduanya berciuman sambil menangis. Tak lama kemudian Myungsoo melepaskan tautan bibir mereka.

“A-a-ku…Aku sangat mencintaimu Lee Sungyeol.” Bibir Myungsoo kembali bergetar saat ia mengatakannya. Kemudian ia kembali membawa Sungyeol ke dalam ciuman yang sempat terhenti tadi.

Waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam. Myungsoo mengantar Sungyeol pulang kerumahnya. Selama perjalanan keduanya hanya terdiam. Mereka hanya berjalan sambil berpegangan tangan dan menundukkan kepala masing-masing. Menyedihkan sekali, karena setelah ini mereka tidak akan bisa bersama lagi. Ketika hampir sampai di rumah Sungyeol, tiba-tiba Sungyeol menghentikkan langkahnya. Hal itu membuat Myungsoo terkejut. Ia menatap Sungyeol dengan penuh tanya. Sungyeol terdiam, pandangannya tertuju pada satu arah. Myungsoo lantas mengikuti ke mana arah pandangan Sungyeol. Deg…Seorang pria bertubuh atletis, dengan rambut hitamnya, serta koper-koper besar di samping. “Nam Woohyun” batin Myungsoo. Ia bisa mengenali pria itu walaupun ia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Myungsoo lalu melepaskan pegangan tangannya. Sungyeol lalu menatap Myungsoo dengan tatapan bersalah.

“Pergilah. Ia sudah menunggumu. Tidakkah kau merindukannya?” Myungsoo mengatakannya dengan senyum yang ia paksakan untuk bisa terukir dari bibirnya. Sungyeol menatap Myungsoo.

“Maafkan aku Myungsoo..Maaf..Maaf..Maaf..“ Air mata Sungyeol terjatuh saat ia mengatakannya.

“Heeii…Jangan menangis. Bukankah kau sudah menunggunya selama 3 tahun? Kau pasti sangat merindukannya. Pergilah Lee Sungyeol. Temui dia. Dan hiduplah bahagia bersamanya” Myungsoo menghapus air mata Sungyeol. Sungyeol tersenyum tipis.

“Aku pergi.” Kata Sungyeol, ia menggigit bibir bawahnya. Sungyeol mulai melangkahkan kakinya. Kini Myungsoo hanya mampu menatap punggung Sungyeol yang semakin lama semakin menjauh.

“Woohuyun-ah….” Sungyeol tersenyum menyapa laki-laki yang sudah tidak ia lihat selama 3 tahun ini. Laki-laki yang di panggil Sungyeol tersebut langsung tersenyum. Ia langsung menarik Sungyeol kedalam pelukannya.

“Aku merindukanmu….Sangat sangat sangat sangat merindukanmu calon istriku…..” Kemudian ia mencium kening Sungyeol dengan lembut. Sungyeol tersenyum mendengarnya.

“Aku juga sangat sangat sangat sangat merindukanmu calon suamiku…..” Keduanya terkekeh, lalu Sungyeol mengeratkan pelukan Woohyun.

“Ayo masuk. Aku sudah hampir mati kedinginan disini.” Sungyeol mengangguk.

“Kau tau? Kau adalah orang yang aku temui tepat setelah aku tiba di Korea. Aku sengaja mempercepat penerbanganku, aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu nyonya Nam.” Woohyun menggoda Sungyeol. Sungyeol lalu memukul pelan lengan kekar Woohyun. Keduanya lalu tertawa.

Sungyeol kini sudah bersama dengan Woohyun. Laki-laki itu bahkan tak bisa melepas Sungyeol dari pelukannya. Senyumnya juga tak pernah hilang dari bibirnya sejak ia bertemu dengan Sungyeol. Ia mencium kening Sungyeol dan memeluknya dengan hangat. Myungsoo menyaksikan semua itu. Ia sadar ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Woohyun.

 

 

 

 

END

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s