MYUNGYEOL FANFICTION | Confession of Love | One Shoot

Normal
0

false
false
false

IN
JA
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Cast                 : Lee Sungyeol

                          Kim Myungsoo

Author             : @AnnisaLKIM

Genre              : Angst, Sad Romance

 

“Cinta tanpa pengakuan selamanya hanya akan menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan…..”

 

-Confession of Love-

Lee Sungeol Point of View

Lelah…? Yaa itulah mungkin yang aku rasakan saat ini.

Jenuh…? Bukan jenuh lagi, bahkan bisa dibilang aku sudah hampir mati karena bosan.

Bodoh..? Sangat…Bahkan aku lebih bodoh dari anak sekolah yang tidak naik kelas sampai tujuh kali.

Kalian pasti tau bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi orang itu tidak pernah tau bahwa kita mencintainya. Rasanya dada ini sesak sekali saat kita tidak bisa melihatnya. Tapi saat dia ada di depan mata kita, kita malah tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap hari kita dihantui oleh rasa takut, rasa takut kalau orang yang dekat dengan kita justru jatuh cinta pada orang lain. Orang itu selalu memberiku harapan. Selalu membuatku berfikir bahwa ia juga menyukaiku. Orang itu bahkan mampu membuatku lupa akan seseorang yang telah menyakitiku dimasa lalu. Ia sangat dekat denganku, tapi kenapa sangat sulit untuk memilikinya?

Hai, namaku Lee Sungeol. Aku seorang namja berumur 18tahun. Aku bukanlah namja yang luar biasa. Aku hanya seseorang yang sederhana dan apa adanya. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan sarjanaku di Daekyung University. Aku mengambil jurusan musik kontemporer. Dari ceritaku tadi pasti kalian sudah tau kalau saat ini aku sedang jatuh cinta. Kim Myungsoo, nama orang itu adalah Kim Myungsoo. Kami berdua satu kelas. Kami berteman baik. Kami juga sangat dekat. Teman-teman kami bahkan mengira bahwa kami sedang pacaran. Tapi Myungsoo selalu menyangkalnya dengan mengatakan “Tidak mungkin kami berpacaran, kami kan sama-sama namja…hahahaha”.

Tahukah kau Myungsoo pernyataannmu itu membuat hatiku hancur, dan membuatku merasa jadi orang yang begitu menyedihkan…”

Myungsoo…Aku akui ia sangat tampan. Mata elangnya, hidung bangirnya, bibir ranumnya, lekuk wajahnya, semuanya terlalu sempurna. Tapi sejujurnya bukan itu yang membuatku tertarik padanya. “Kenyamanan…” Yaa itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Myungsoo selalu membuatku merasa nyaman saat aku berada didekatnya. Saat bersamanya aku bisa mengatakan semua permasalahan yang aku pendam sendiri selama ini yang tidak bisa aku katakan pada orang lain. Saat bersamanya aku hanya perlu menjadi sosok Lee Sungyeol yang sederhana dan apa adanya. Kami bahkan punya banyak kesamaan. Kami menyukai jenis musik yang sama. Kami sama-sama ditolak dari Universitas yang sama sebelumnya, sebelum akhirnya kami terdampar di Universitas ini. Kami sama-sama pernah kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup kami karena sebab yang sama. Aku kehilangan dongsaengku, dan ia kehilangan Hyungnya.

            Myungsoo…ia punya kebiasaan membelai rambutku saat ia merasa bosan di kelas. Mungkin karena kami sama-sama namja kalian akan berfikir ini aneh. Ia juga sering sekali bertanya padaku “ Sungyeol..Kenapa kau cantik? Sayang sekali kau ini seorang namja”. Bisakah kalian bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Myungsoo pandai sekali membuatku berfikir ia menyukaiku, tapi ia juga sangat pandai membuatku patah hati karenanya.

            Myungsoo…Disaat orang lain tidak tau aku sedang bersedih, hanya dia yang mampu menyadari hal itu. Ia akan mendekat kepadaku, membelai rambutku dan bertanya “Gwaenchana?”. Disaat aku merasa sedang tidak enak badan, Myungsoo akan bertanya “Kau sakit? Sudah minum obat? Apa keadaanmu sudah lebih baik?”. Myungsoo cerewet sekali. Tapi aku senang mendapat perhatian darinya. Ia juga selalu memintaku untuk selalu tersenyum walaupun aku sedang sakit sekalipun. Terimakasih Myungsoo atas perhatian yang kau berikan padaku selama ini. Aku merasa hidupku lebih berarti. Karenamu untuk pertama kalinya aku merasa bahwa hidupku sangat berharga.

 Myungsoo taukah kau…..Karenamu….bernafas… saat dimana aku bangun tidur… dan cinta… semuanya terasa begitu indah”.

            Sejak aku mengenal Myungsoo, banyak hal berubah dari diriku. Aku menjadi orang yang sangat peduli terhadap penampilanku. Aku selalu berpakaian rapi, menata diriku, berdiri di depan cermin untuk waktu yang lama. Aku juga menjadi orang yang lebih religius. Aku jadi suka sekali untuk berdoa. Doa yang sama untuk setiap harinya…

 “Tuhan…Aku mohon…memang Myungsoo-lah takdir yang telah Engkau gariskan untukku….”

@Sekolah

“Heiii….” Kurasakan seseorang menepuk bahuku. Aku membalikkan tubuhku dengan segera.

“Eh…Kau Myungsoo…” Aku tersenyum menyadari orang itu adalah Myungsoo.

“Kau cantik hari ini…” Blushhh… Entah apa yang merasuki Myungsoo sampai ia mengatakan itu kepadaku. Wajahku langsung memerah karenanya.

“Apa-apaan kau ini aku kan namja” Aku menundukkan wajahku karena malu.

“Iya..Namja cantik..Hehehehe.. Sungyeol, aku ingin memujimu… Bolehkah?” lanjut Myungsoo.

“Tentu, memangnya kau mau memujiku apa?” Jawabku dengan antusias.

“Kau tau kau itu cantik, kau manis, kau baik, kau orang yang ceria, kau bisa mencairkan suasana…Tapi sayang ada satu hal yang mengganjal…”

“Apa itu?”

“Sayang sekali kau ini namja…” Jedeeeer…Kedua lututku langsung lemas saat mendengar pernyataan Myungsoo yang terakhir. Aku seperti menyesal terlahir sebagai seorang laki-laki.

Seperti inilah Myungsoo. Ia sering sekali memujiku dan berkata hal-hal manis terhadapku. Ia selalu memberi perhatian lebih padaku. Tak jarang ia memanggilku “Chagi…..Yeobo….”. Ada yang bilang perlakuan Myungsoo padaku dengan perlakuan Myungsoo pada orang lain itu berbeda. Bahkan tak jarang teman-teman disekitar kami sampai bertanya-tanya “Apa kalian pacaran? Kalian berdua ada hubungan apa?” dan bla bla bla masih banyak lagi. Yaa..Itulah kenapa aku sampai mensalah artikan perhatian yang Myungsoo berikan kepadaku. Aku berfikir Myungsoo juga menyukaiku. Aku tau aku terlalu percaya diri.

“Aku mohon Myungsoo…Jangan seperti ini….Jangan memberiku harapan jika kau dan aku tidak akan pernah bisa menjadi kita…”

@Sungai Han

            Sore ini Myungsoo mengajakku untuk jalan-jalan ke sungai Han sepulang sekolah. Kami berjalan menyusuri tepian sungai Han. Hening….Itulah yang terjadi. Tidak ada pembicaraan berarti diantara kami. Cukup lama kami berjalan, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat. Kami duduk disebuah bangku panjang yang berada tepat di bawah pohon maple.

“Bukankah pemandangan disini sangat cantik, iya kan Myungsoo?” Aku memulai pembicaraan, memecah keheningan diantara kami.

“Eoh? Tidak..Menurutku ada yang lebih cantik dari pemandangan di sini.” Jawab Myungsoo. Ia memandang kearahku.

“Maksudmu?” Aku mengerutkan dahiku, menatapnya penuh tanda tanya.

“Ah tidak-tidak…..Menurutku pemandangan di pulau Jeju lebih cantik dari pada pemandangan di sungai Han. Ah iya itu maksudku.” Myungsoo terlihat kikuk. Ia menggaruk tengkuknya.

“Aaa..Iya, aku sependapat denganmu. Hahaha…” Kami berdua tertawa. Sejenak tercipta keheningan lagi diantara kami.

“Sungyeol, boleh aku bertanya?” Kali ini Myungsoo yang memulai pembicaraan.

“Hei…Kenapa kau jadi formal sekali? Katakan saja apa pertanyaanmu itu. Aku akan menjawabnya.” Jawabku santai.

“Apa kau bahagia? Apa kau bahagia menjadi temanku? “ Myungsoo menatapku dengan tajam.

“Hei..Kenapa bertanya seperti itu. Aku bahagia Myungsoo. Bahagia sekali….” Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Jujur aku takut saat Myungsoo menatapku seperti itu. Aku takut akan jatuh cinta lebih dalam padanya.

“Tentu aku bahagia Myungsoo… Sejak mengenalmu, kaulah kebahagiaan terbesarku…”

            Saat ini aku dan Myungsoo sedang berada di kelas. Seperti biasa ia akan memilih untuk duduk di sampingku.

“Sungyeol…” Myungsoo memanggilku lirih  karena ini memang sedang pelajaran.

“Hmmm…” Aku hanya berdehem tanpa menoleh padanya, aku sedang sibuk mencatat.

“Aku sedang jatuh cinta” Ucap Myungsoo dengan jelas.                                             

“Eoh???? Dengan siapa?” Jujur aku sangat terkejut. Kali ini aku langsung menoleh kearahnya dan berhenti dengan aktivitas mencatatku.

“Rahasia… “

“Ihh…Dasar pelit….” kataku kesal.

“Belum saatnya aku memberitahumu…Nanti kalau waktunya sudah tiba aku akan mengatakannya..” Myungsoo menacak rambutku pelan.

“Dia orang yang seperti apa?” tanyaku penasaran.

“Dia baik, cantik. Dan yang pasti dia orang yang bisa membuatku nyaman.” Myungsoo tersenyum.

“Oh…Beruntung sekali orang itu” Aku hanya ber-OH ria sembari menahan air mataku yang sedari tadi memaksa untuk keluar.

”Aku tidak tahan lagi Tuhan…Ini terlalu menyakitkan…”

            Hari ini Myungsoo tidak seperti biasanya. Ia terlihat murung dari tadi. Ia juga tidak banyak bicara. Sepertinya ia sedang punya masalah. Disaat seperti ini biasanya aku akan membiarkannya untuk sendiri. Aku harus memberinya waktu sampai Myungsoo mau menceritakan permasalahannya sendiri tanpa aku minta ia untuk mengatakannya.

“Ini…” Myungsoo memberikanku sebuah benda yang jika aku lihat ini terlihat seperti undangan. Aku menerima pemberian Myungsoo itu.

“Aku akan bertunangan…” lanjut Myungsoo, pandangannya lurus kedepan. Ia tidak menatapku. Aku langsung terdiam, tidak tau aku harus bereaksi seperti apa.

“Apa dengan wanita ini? Waktu itu kau bilang kau sedang jatuh cinta, apa dengan wanita ini?” Aku tak tau kenapa. Setelah terdiam cukup lama inilah kata-kata yang keluar dari bibirku. Tapi Myungsoo hanya diam. Ia tidak menjawab apapun.

“Selamat…” Aku mengucapkannya lalu pergi meninggalkan Myungsoo. Aku hanya bisa menahan air mataku.

Entah mengapa hari ini aku ingin sekali menagis. Aku sudah tidak tahan lagi. Beban ini terlalu berat untuk kutanggung sendirian. “I’m tired…Lelah, sangat lelah”. Aku terdiam di kamar, ku putar sebuah lagu dan aku keraskan volumenya. Aku menangis memegangi dadaku yang entah mengapa terasa sesak sekali. Ini untuk pertama kalinya aku menagis seperti ini. Selama ini aku hanya menahannya. Tapi kali ini rasanya lebih sakit daripada saat aku dicampakkan oleh cinta pertamaku dulu. Ketakutanku selama ini, ketakutanku tentang Myungsoo yang dekat denganku tapi ia justru jatuh cinta pada orang lain akhirnya terbukti. Bahkan sekarang mereka akan bertunangan. Cukup lama aku menagis. Aku benar-benar menumpahkan apa yang aku pendam selama ini.

Setelah aku berpikir berulang kali sepertinya aku tidak sanggup untuk menjalani ini lebih lama lagi. Aku putuskan untuk pergi. Aku harus bisa. Aku harus melupakan Myungsoo. Aku harus tau diri. Aku tidak pantas untuknya.

“Mungkin inilah jawaban Tuhan atas doaku selama ini…. Bahwa  Kim Myungsoo bukanlah takdir yang Tuhan gariskan untuk bersama dengan Lee Sungyeol…”

            Besok aku akan pergi. Hari ini kuputuskan untuk bertemu dengan Myungsoo untuk yang terakhir.

“Myungsoo…Maaf…” Aku mengatakannya lirih tanpa menatap Myungsoo secara langsung.

“Maaf? Untuk apa?” Myungsoo bertanya.

“Semuanya…” Aku masih tidak menatapnya.

“Apa terjadi sesuatu?” Ia menarik kedua bahuku agar bisa menghadapnya.

“Tidak” Aku tersenyum tipis.

“Ada yang kau sembunyikan dariku?” Ia menatapku tajam.

“Tidak” Aku tersenyum lagi.

“Lalu?” Myungsoo bertanya lagi.

“Aku hanya ingin minta maaf. Maaf untuk semuanya…” Aku mengalihkan pandanganku kearah lain, aku harap Myungsoo tak melihat air mataku.

“Kau aneh Lee Sungyeol…” Myungsoo pergi beranjak dari tempatnya dan meninggalkanku sendirian.

“Maafkan aku Myungsoo……”

Author Point of View

            Sudah beberapa hari ini Sungyeol tidak terlihat. Disekolah, dirumah, ataupun di cafe fevoritnya. Sungyeol sudah pergi 2hari yang lalu. Ia pergi ketempat dimana tak seorangpun mengetahinya. Ia hanya berpamitan pada tetangganya seorang ahjumma dan menitipkan sebuah surat kecil. Sungyeol berpesan untuk menitipkan surat itu pada seseorang bernama Myungsoo apabila ia mencarinya.

            Myungsoo yang kelimpungan karena sudah 2hari Sungyeol tak masuk kuliah, ponselnya juga tidak aktif akhirnya memutuskan untuk pergi kerumah Sungyeol. Namun Myungsoo tak mendapati apapun disana. Rumah Sungyeol terlalu sepi seperti rumah yang tidak berpenghuni. Myungsoo terus mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil nama Sungyeol. Nihil…tidak ada jawaban…”Heuuuul” Myungsoo menghela nafas panjang.

“Apa kau mencari Sungyeol?” tanya seorang ahjumma paruh baya pada Myungsoo.

“Aa…Iya…Apa Nyonya tau dimana dia?” Myungsoo berjalan menghampiri Ahjumma itu.

“Apa kau Myungsoo?” Ahjumma itu tidak menjawab pertanyaan Myungsoo, ia malah bertanya lagi.

“Iya, bagaimana kau tau namaku?” Myungsoo menatap Ahjumma itu bingung.

“Ini…Sungyeol menitipkan ini padaku untuk seseorang bernama Myungsoo.” Ahjumma itu memberikan sebuah amplop kecil pada Myungsoo.

“Apa ini? Lalu dimana Sungyeol?” Tanya Myungsoo heran.

“Ia sudah pergi.” Jawab Ahjumma itu.

“Kemana?”

“Ia tidak pernah mengatakan apapun soal itu.” Ahjumma itu menjawab lalu ia pergi berlalu.

            Perlahan Myungsoo membuka isi amplop itu. Ternyata ada sebuah kertas kecil di dalamnya. Ketika Myungsoo membuka lipatan kertas itu, Myungsoo sadar ini surat. Surat dari Sunyeol untuknya. Myungsoo mulai membacanya…

To: Myungsoo

“Aku pergi Myungsoo…

Maaf karena aku tidak berpamitan langsung padamu. Hatiku tidak akan kuat apabila aku harus bertemu denganmu secara langsung dan mengucapkan selamat tinggal. Aku pikir akan lebih baik jika seperti ini saja. Jadi kau tidak perlu melihatku menangis. Hahahaha…

Kau masih ingat saat aku tiba-tiba meminta maaf kepadamu? Aku ingin jujur padamu. Saat itu sebenarnya aku minta maaf karena perasaanku. Maaf…karena selama ini aku menyukaimu. Maaf….karena aku sudah mencintaimu tanpa meminta ijinmu terlebih dahulu. Maaf karena aku sudah lancang. Aku memang tidak tau diri. Maaf..Maaf..Maaf..Maaf..

Kau tidak perlu khawatir Myungsoo, aku tidak akan membebanimu dengan perasaanku ini. Aku akan pergi sejauh mungkin darimu. Aku tidak akan kembali lagi. Aku tau aku sangat bodoh Myungsoo, aku tau cara untuk menyukaimu, aku tau cara untuk mencintaimu, aku tau cara untuk merindukanmu, aku tau cara untuk memujimu, tapi aku tidak pernah tau bagaimana cara untuk melupakan dan meninggalkanu. Tapi bagaimanapun aku akan belajar untuk melupakanmu, walau aku tau itu akan sulit. Akan kulakukan.

Terimakasih Myungsoo, untuk semuanya. Terutama untuk perhatian yang kau berikan padaku. Sejak bertemu denganmu hidupku jadi lebih berarti. Aku yang tadinya malas sekali untuk pergi ke sekolah, setidaknya ketika aku ingat kalau aku pergi ke sekolah aku akan bertemu denganmu yang selalu menyambutku dengan senyuman terbaikmu itu sudah lebih dari cukup untuk menyemangatiku.

Terimakasih…..

Selamat tinggal….

Maafkan aku……

Aku mencintaimu…..Myungsooo….. “

Lee Sungyeol

 

 

“Aku juga mencintaimu…Sungyeol…” Kata Myungsoo lirih. Myungsoo menangis membaca surat itu. Ia meremas dadanya yang terasa sesak. Bahkan disaat seperti ini Sungyeol masih sempat untuk meminta maaf.

 

“And now , i promise to myself to never remember anything about us. It’s to hurt. I’m so tired.

I’m so sorry Myungsoo…Good Bye…”

 

_The End_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s